STUDI ISLAM KOMPREHENSIF

Zul Azimi

Abstract


            Untuk memahami ajaran Islam memang diperlukan metodologi. Metodologi yang tepat akan mengantarkan umat Islam terhadap pemahaman yang utuh dan integral terhadap Islam itu sendiri. Sebaliknya, memahami Islam secara parsial (sepotong-sepotong/sepihak) akan menimbulkan penilaian yang berat sebelah alias tidak seimbang.

            Metodologi ibarat kunci yang bisa membuka pintu rumah, pintu mobil, atau pintu lemari. Tanpa kunci kita tidak akan mampu membuka pintu rumah dan melihat isinya. Tanpa kunci kita tidak bisa menjalankan mobil dan mengantarkan kemana arah yang kita tuju. Tanpa metodologi kita tidak mampu melihat isi ajaran Islam dengan baik. Tanpa metodologi pula kita tidak akan mampu sampai kepada tujuan pemahaman Islam secara efektif, efisien dan cerdas.

            Seseorang yang hanya memahami Islam hanya dari sudut pandang fiqih semata akan menimbulkan ketidakutuhan dalam menilai ajaran Islam, seolah-olah Islam itu hanya berisi hukum-hukum saja. Islam juga agama yang berbicara tentang sains, teknologi, sejarah, pemikiran, ekonomi, politik, dakwah, teologi, tasawuf, filsafat, pendidikan, serta aspek-aspek lainnya.  

            Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana memposisikan Islam sebagai sasaran penelitian? Atho Mudzhar berpendapat bahwa kajian tentang Islam secara garis besar dapat mengambil dua bentuk kajian: pertama, kajian terhadap Islam sebagai wahyu; kedua, kajian tentang Islam sebagai produk sejarah.

            Dalam ungkapan yang berbeda, Jacques Waardenburg menyatakan bahwa studi-studi keislaman melingkupi studi mengenai Islam sebagai agama dan tentang aspek-aspek keislaman dari kebudayaan masyarakat Muslim. Lebih lanjut Waardenburg menjelaskan bahwa untuk meneliti Islam harus dibedakan antara Islam normatif yang berupa preskripsi-preskripsi, norma-norma, dan nilai-nilai yang termuat dalam petunjuk suci (Alquran & Alsunnah) dan, Islam aktual, berupa semua bentuk gerakan, praktek dan gagasan yang pada kenyataannya eksis dalam masyarakat Muslim dalam waktu dan tempat yang berbeda-beda.


References


A. Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991).

Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Graffindo Persada, 2002).

Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).

Badudu dan Zain, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Sinar Harapan, 1996).

Didin Saefuddin Buchori, Metodologi Studi Islam, (Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005).

Djamari, Agama dalam Perspektif Sosiologi, (Bandung: Al-Fabeta, 1993).

Harun Nasution, “Format Baru Gerakan Keagamaan”, makalah disampaikan dalam pembukaan simposium Nasional di PPIM IAIN Jakarta, 1998.

Harun Nasution, “Klasifikasi Ilmu dan Tradisi Penelitian Islam: sebuah Perspektif”, dalam Mastuhu dan Deden Ridwan (Ed). Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, Tinjauan Antardisiplin Ilmu, (Bandung: Nuansa, 1998).

Harun Nasution, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: Djambatan, 1992).

Masdar F. Mas’udi, “Agama Sumber Etika Negara-Negara: Perlu Pemikiran Ulang”, makalah disampaikan dalam simposium Nasional di PPIM IAIN Jakarta, 1998.

Mastuhu dan Deden Ridwan dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, (Jakarta: Nuansa, 1998).

Pusat Depennas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (jakarta: Balai Pustaka, 1994).

Taufiq H. Idris, Kebudayaan Mengenal Islam, (Surabaya: Bina Ilmu, 1983).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.