Editorial - Kelebihan Berat Badan: Bukan Lagi Indikator Kemakmuran, namun Indikator Penyakit

Asnawi Abdullah

Abstract


Kelebihan berat badan atau obesitas sudah menjadi suatu epidemic baru ditatanan global. Menggunakan definisi World Health Organization (WHO) tentang obesitas (bila seseorang sudah mempunyai Body Mass Index (BMI) atau indeks masa tubuh (IMT) lebih besar sama dengan 30 kg/m2)  , sekarang ini secara global ada sekitar 1,6 milyar orang dewasa sudah masuk dalam kategori kelebihan berat badan (overwight) dan 400 juta diantaranya terindikasi obese secara klinik (clinically obese)[1]. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat (the USA), prevalence obesitas sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan dan telah dianggap suatu ancaman terhadap tatanan system kesehatan nasional negara tersebut[2],[3]. Betapa tidak, di tahun 2007 – 2008 saja, sudah 35.5% penduduk Amerika yang menderita obesitas[4]. Anehnya, epidemic ini tidak hanya terjadi di Negara maju, namun juga sudah merambah ke Negara berkembang. Beberapa Negara berkembang di timur tengah misalnya seperti Arab Saudi Arabia, prevalence obesitas bahkan sudah mencapai 35.6% pada tahun sejak satu decade yang lalu[5]. Di Indonesia, belum ada data yang akurat, namun beberapa survey melaporkan bahwa sekitar 24% wanita Indonesia sudah menderita obesitas[6]. Angka ini diperkirakan akan terus meningkatnya seiring dengan perubahan gaya hidup dan perubahan pola konsumsi makanan dikalangan masyarakat Indonesia.

Dulu, kelebihan berat badan sering diasosiasikan sebagai salah satu indicator kemakmuran seseorang. Namun penelitian belakangan ini, terutama di Negara maju, prevalensi obesitas tertinggi justru di kalangan masyarakat dengan social ekonomi rendah. Di Negara berkembang, memang prevalensi obesitas masih dilaporkan lebih tinggi dikalangan masyarakat berpenghasilan tinggi, namun ke depan diperkirakan akan berubah seiring peningkatan kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat; peningkatan kesadaran akan pentingnya olah raga dan kebugaran dikalangan masyarakat terutama masyarakat dengan sosial ekonomi tinggi dan masyarakat yang mempunyai daya beli akan makanan-makanan sehat dan gizi seimbang. Makanan siap saji fast food sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat berpenghasilan tinggi, namun sebaliknya masyarakat dengan social ekonomi menengah dan rendah justru baru menikmatinya. Tidak heran pangsa pasar makanan fast food saat ini bergeser ke pinggiran kota dan kota-kota kecil. Tidak akan lama lagi, kegemukan juga akan bergeser ke masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah dan obesitas bukan lagi indicator kemakmuran namun justru indikator kehidupan masih “pas-pasanâ€.

Selain bukan lagi indicator kemakmuran, hal yang menarik, belakangan ini, obesitas sudah dianggap sebagai suatu penyakit. Bila anda gemuk, maka anda sedang menderita penyakit. Hal ini didukung oleh berbagai hasil kajian dan publikasi ilmiah di berbagai jurnal internasional. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa obesitas merupakanfaktor resiko berbagai penyakit kronik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[7] menginventarisir sedikitnya ada 20 jenis penyakit berkaitan dengan obesitas, termasuk: insulin resistensi, dyslipidaemia, type-2 diabetes, tekanan darah tinggi, stroke, osteoarthritis, meningkatnya uricacid dalam darah, kanker, gangguan kesuburan danjanin pada ibu yang menderita obesitas. Sebagai contoh, hasil studi meta-analysis terbaru, menyimpulkan bahwa orang yang mempunyai kelebihan berat badan (obesitas), mempunyai resiko tujuh kali lebih besar untuk menderita type-2 diabetes dari pada orang yang mempunyai berat badan normal (relative risk (RR) 7.19 (95% CI: 5.74 – 9.00)[8]. Overweight mempunyai resiko menderita ischemic stroke 22% kali lebih besar dari pada orang normal, sedangkan obesitas mencapai 64% lebih tinggi dengan RR secara berturut-turut 1.22 (95% CI: 1.05 – 1.41) dan 1.64 (95% CI: 1.36 – 1.99)[9]. Meta-analysis studi dari 33 cohort studi negara-negara Asia Pasifik[10] menyimpulkan bahwa setiap dua unit peningkatan BMI, akan meningkatkan resiko jantung koroner (coronary heart diseases) sebesar 11% (95% CI: 9% - 13%). Disamping itu, masalahnya tidak hanya dengan beberapa berat, namun juga lamanya seseorang obese; makin lamanya seseorang hidup dengan kelebihan berat badan baik overweight mupun obesitas, makin besar resiko untuk menderita berbagai penyakit di atas. Hasil penelitian terbaru disimpulkan bahwa setiap dua tahun seseorang hidup dengan kelebihan berat badan (obesitas), maka resiko menderita type 2 diabetes meningkat sebesar 13% [RR=1.13 (95% CI 1.09 – 1.17)] untuk laki-laki dan sekitar 12% untuk wanita dengan RR 1.12 (95% CI 1.08 – 1.16)[11]. Bahkan beberapa penelitian melaporkan obesitas mempunyai juga resiko kematian dini[12]- [13] - [14]-[15] -[16]. Ini semuanya mengindikasikan bahwa ternyata obesitas sama sekali bukan lagi indicator kemakmuran, namun justru indicator penyakit dan kematian dini.


[1] World Health Organization. Fact Sheet: Obesity and Overweight. http://who.int/mediacentre/factsheets/fs311/en/index.html. Accessed 20 May 2010.

 

[2] Task Force on Childhood Obesity. Solving the Problem of Childhood Obesity within a Generation: White House Task Force on Childhood Obesity Report to the President 2010.

 

[3] Gregg EW, Guralnik JM. Is disability obesity’s price of longevity? JAMA : the journal of the American Medical Association. 2007; 298 (17) : 2066 – 2067.

 

[4] Flegal KM, Carroll MD, Ogden CL, Curtin LR. Prevalence and trends in obesity among US adults. 1999-2008. Jan 20 2010;303 (3) : 235 – 241.

 

[5] Low S, Chin MC, M. D – Y. Review on epidemic of obesity. Ann Acad Med Singapore. Jan 2009;38 (1):57-59.

 

[6] Sassi F. Obesity and the Economics of Prevention : Fit not Fat. Vol 2010: OECD; 2010.

 

[7] World Health Organization. Obesity: Preventing and managing the global epidemic. Report of a WHO consultation. WHO Technical Report Series. Geneva;2000.

 

[8] Abdullah A, Peeters A, de Courten M, Stoelwinder J. The Magnitude of association between overweight and obesity and the risk of diabetes: A meta-analysis of prospective cohort studies. Diabetes Research and Clinical Practice. 2010;89 (3) : 309-319.

 

[9] Strazzullo P, D’Elia L, Cairella G, Garbagnati F, Cappuccio FP, Scalfi L. Excess body weight and incidence of stroke: meta-analysis of prospective studies with 2 million participants. Stroke. May 2010;41 (5):e418-426.

 

[10] Ni Mhurchu C, Rodgers A, Pan WH, Gu DF, Woodward M. Body mass index and cardiovascular disease in the Asia-Pacific Region: an overview of 33 cohorts involving 310.000 participants. Int J Epidemiol. Aug 2004;33(4):751-758.

 

[11] Abdullah A, Stoelwinder J, Shortreed S, et al. The duration of obesity and the risk of type 2 diabetes. Public Health Nutrition. Jun 29 2010: Available on JCO 29 Jun 2010; doi: 2010.1017/S1368980010001813.

[12] Ringback Weitoft G, Eliasson M, Rosen M. Underweight, overweight and obesity as risk factors for mortality and hospitalization. Scand J Public Health. Mar 2008;36 (2):169-176.

 

[13] McGee DL, Diverse Populations C. Body mass index and mortality: a meta-analysis based on personal-level data from twenty-six observational studies. Ann Epidemiol. Feb 2005;15 (2): 87 – 97.

[14] Janssen I, Mark AE. Elevated body mass index and mortality risk in the elderly.Obes Rev. Jan 2007; 8 (1):41-59.

[15] Hu FB. Obesity Epidemiology. New York: Oxford University Press; 2008.

[16] Abdullah A, Wolfe R, Stoelwinder JU, et al. The number of years lived with obesity and the risk of all-cause and cause-specific mortality. Int J Epidemiol. Feb 27 2011, doi:10.1093/ije/dyr018.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Editorial Office

Pusat Kajian dan Penelitian Kesehatan Masyarakat (PKPKM)

Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Lantai II, Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) 

Jl. Muhammadiyah No.93, Bathoh, Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh.             

Telp. (0651) 31054, Fax. (0651) 31053.

Email: jukema@fkm.unmuha.ac.id atau jukemaunmuha@gmail.com  

Website: http://pps-unmuha.ac.id/pusat-kajian-dan-penelitian-kesehatan-masyarakat/